Workshop Pendokumentasian Visual Sesi #01

Sebuah Pendokumentasian menjadi sangat penting, sebab dokumentasi menjadi medium setiap individu/kelompok untuk merekam setiap gerak dari apa yang dicita-citakan. Begitupun dalam proses belajar, pendokumentasian adalah media untuk merefleksi setiap pembelajaran yang telah dirasakan dan dilewati. Tetapi, pendokumentasian tidak hanya dalam bentuk tertulis, namun bisa juga dikemas dalam bentuk visual, yang kira-kira dapat lebih memudahkan dalam proses pembuatan maupun publikasi. Berangkat dari pemahaman ini, komunitas sahabat alam yang bekerja sama dengan Jalur timur, yang sekaligus berjejaring, menginisiasi workshop pendokumentasian visual. Kali ini, Rais (visual enginering) dari jalur timur dipercayakan menjadi mentor workshop.

Workshop yang berlangsung di kedai Sahabat Alam, Maros, dihadiri 10 orang anak muda dari beragam komunitas. Petani, peternak, seniman lokal hingga mahasiswa. Workshop yang berlangsung pada pukul 15.30 ini, dibuka oleh fasilitator dengan memberi ruang pada para peserta dan mentor untuk saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengenal, fasilitator memberikan sedikit pengantar akan tujuan dari kegiatan ini. Mengapa dalam proses belajar sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun komunitas, pendokumentasian visual menjadi sangat penting.

Agar workshop berlangsung interaktif, fasilitator juga memberi ruang pada peserta untuk membagikan pengalamannya selama ini dalam memanfaatkan smartphone dan kaitannya dengan kerja-kerja dokumentasi. Dalam sesi ini, sebagian besar peserta menuturkan bahwa mereka telah berupaya semaksimal mungkin untuk memanfaatkan smartphonenya guna mendokumentasikan kegiatannya. Meskipun dalam banyak kesempatan, mereka sering terkendala dalam hal teknis. Misalnya, dalam hal teknik pengambilan gambar. Ada juga yang menuturkan kendalanya dalam hal kapasitas tekhnologi yang dimiliki, misalnya kapasitas kamera smartphone yang kurang memadai. Selebihnya, mendaku sedang dalam proses memahami lebih jauh terkait pendokumentasian.

Setelah mendengarkan pengalaman setiap peserta, mentor coba membuka pelajaran dengan ikut membagikan pengalamannya tentang kerja-kerja dokumentasi visual. Bagaimana selama ini ia bekerja, seperti apa pengalamannya, mengapa menggeluti kerja-kerja dokumentasi dan seni visual, dan apa kendala yang selama ini sering dihadapi. Selain itu, Rais juga coba sedikit menanggapi pengalaman para peserta. Setelah ikut membagikan pengalamannya, Rais mulai menyampaikan pada para peserta mengenai apa sebenarnya pendokumentasian visual itu, dan mengapa hal ini sangat potensial untuk dikerjakan.

Ada banyak poin penting yang disampaikan oleh Rais dalam workshop ini. Misalnya, mengenai sejarah dan fungsi utama dari pendokumentasian visual. Rais menuturkan bahwa, dokumentasi itu merupakan bukti, maka pendokumentasian dalam bentuk visual adalah kerja-kerja untuk mempermudah proses pembuktian atau perekaman aktifitas. Oleh karena itu, bagi Rais, pertama-tama seorang dokumenter mestilah memahami apa yang hendak didokumentasikan. Dengan kata lain, seorang dokumenter mesti memiliki sikap dan pengetahuan dasar. Sedari awal, dokumenter harus bersikap jujur dan tidak memanipulasi proses dokumentasi.

Bagi Rais, sikap dasar ini menjadi sangat penting, sebab suka tidak suka, apa yang didokumentasikan akan memberi efek sosial bilamana hasil dokumentasi tersebut telah dipublikasikan. Rais memberi contoh dari apa yang dimaksud. Misalnya sebuah video yang didokumentasikan oleh seseorang yang ujung-ujungnya membuat si dokumenter mendapat cercaan dan makian dari penonton. Padahal awalnya, si pembut video tersebut hanya berniat membuat hiburan. Begitupun dalam lingkaran komunitas, setiap individu akan kesulitan merefleksi pembelajaran apabila kerja-kerja  pendokumentasian abai terhadap sikap dasar. Intinya, pendokumentasian mesti memuat seluruh aspek dari aktifitas yang hendak direkam.

Selain itu, Rais juga menyampaikan irisan antara dokumentasi dan karya seni. Karena memang memiliki kaitan, kadang-kadang si dokumenter sulit membedakan apakah ia hendak membuat dokumentasi atau membuat karya seni. Dalam hal ini, Rais menegaskan bahwa dokumentasi mestilah objektif. Sedangkan karya seni selalu berkaitan dengan subjektifitas seniman. Orang-orang bisa saja membuat dokumentasi dan karya seni melalui objek yang sama. Rais menjelaskan contoh bagaimana kegiatan workshop ini didokumentasikan dan seperti apa jika diolah menjadi karya seni. Karya seni tidak harus memuat semua aspek dari workshop ini.

Setelah menyampaikan banyak contoh, dan menunjukkan peralatan-peralatan yang sering digunakan, serta kelebihan dari masing-masing alat, Rais menegaskan bahwa kapasitas peralatan bukanlah kendala dalam melakukan kerja-kerja dokumentasi. Merefleksi kembali pengalaman salah seorang peserta yang mempersoalkan kapasitas kamera smartphone, Rais mengingatkan bahwa hal itu bukanlah kendala. Hal yang paling penting adalah si dokumenter mesti paham apa yang hendak dibuktikan dan apa yang hendak ditampilkan. Tanpa itu, peralatan secanggih apapun akan berakhir sia-sia. Bagi Rais, kamera smartphone yang berkapasitas rendah sudah sangat memungkinkan untuk membuat dokumentasi.

Sesi selanjutnya fasilitator coba membuka ruang berdiskusi. Dikesempatan ini ada beberapa peserta yang bertanya. Misalnya bagaimana membedakan foto yang dimanipulasi dan tidak. Bagaimana membuat dokumentasi yang benar-benar utuh dan menarik. Lalu apa kendala yang kadang dihadapi sehingga sulit memisahkan dan membedakan porsi kerja, yaitu antara mendokumentasikan dan membuat karya seni. Untuk pertanyaan pertama, Rais menuturkan bahwa hal itu bisa dicek melalui objek-objek yang direkam dalam fotonya, dan kaitannya dengan apa yang ingin disampaikan. Misalnya, dalam banyak kasus, untuk membuat orang tertarik dengan suatu tempat, si dokumenter hanya menampilkan objek-objek yang kira-kira akan menarik. Hal itu sama saja dengan memanipulasi objek secara keseluruhan. Selebihnya, kadang sebuah foto dimanipulasi melalui proses editing. Untuk pertanyaan kedua Rais cukup membagikan pengalamannya dimana ketika ia hendak mendokumentasikan kegiatan, terlebih dahulu ia meminta run down acara. Sekali lagi Rais mengingatkan bahwa kita mesti paham apa yang hendak didokumentasikan. Selebihnya terkait teknis pengambilan gambar, Rais menyampaikan bahwa akan diulas melalui sesi selanjutnya. Lalu untuk pertanyaan ketiga, Rais kembali menyampaikan pengalamannya bagaimana selama ini ia bekerja sebagai dokumenter sekaligus seniman. Sembari memberi penjelasan, ia coba ,menunjukkan beberapa karyanya. Mulai dari yang direkam dengan menggunakan perangkat sederhana hingga perangkat yang canggih. Sembari memperlihatkan beberapa karyanya, Rais menyampaikan beberapa hal, dan ikut ditanggapi oleh peserta.

Setelah melihat beberapa karya Rais, para peserta mengatakan bahwa, selebihnya mereka hanya ingin langsung mempraktekkan kiat-kiat pendokumentasian visual. Maka dari itu, peserta dan mentor bersepakat agar para peserta coba mengambil 5 gambar dari sebuah aktifitas. Untuk mempermudah proses interaksi, gambar tersebut akan ditunjukkan melalui grup Whatssap workshop dokumentasi visual. Melalui grup, Rais akan coba menanggapi seluruh karya peserta lalu memilah beberapa gambar untuk dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya, yaitu pada tanggal 25 Juli 2017 bertempat di kedai sahabat alam. (Aman)

Iklan